Langsung ke konten utama

Ketika Semesta Bertanya

Penyakit nomer satu pekerja kantoran adalah ga bisa boker. Saya ga bohong. Ini murni berdasarkan hasil survey dimana saya sebagai responden tunggal. Tanya kenapa? Well, dari 3 kantor tempat saya bekerja, kantin-kantin yang ada tidak menyediakan makanan dengan porsi sayur yang banyak. Ada tapi sedikit, paling banter yang banyak sayurnya mungkin pecel. -,-“


Ya kan bisa bawa dari rumah? Wanjirr... bagaimana bisa seorang jomblo kayak saya bawa makanan dari rumah. Lagian kosan murah mana yang menyediakan dapur, gas, dan kompor untuk digunakan penyewanya? Bakal kayak dapur umum militer ntar. 

Tapi Kadang hidup emang ga flat, kayak pagi ini. Penyakit orang kantoran itu tiba-tiba hilang. Entah kemana doi ini pergi. Namun bagai keluar lubang buaya masuk ke kandang singa, penyakit lain datang. Ya katakanlah itu m3ncr*t. Baru aja dikasih makan, eh tiba-tiba isi perut minta dikeluarin. Kemudian semesta pun bertanya, “Bagaimana bisa kamu gendut kalo metabolismemu aneh begitchu bob?” -,-“

Ya memang gini ini hidup di daerah jauh dari rumah, apalagi makanan daerahnya kebanyakan pedas, apalagi jomblo, apalagi tanggal tua. Aihh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Backpaker -Season 2- (Masih Rencana)

      Bulan Maret, musim backpaker, tinggal nungu beberapa hari lagi. Tahun lalu gw udah bisa keliling jawa dengan modal 550K aja. And it was epic holiday :D gw ketagihan, padahal baru pertama. hahaha       Nah untuk tahun ini, gw rencanain tanggal 18 Maret nanti. Tapi start mulai malamnya. Sayang sekali untuk tahun ini gw cuma bisa backpaker selama 3 hari. Kesibukan kerja bikin waktu luang yang dulu terbuang-buang kini udah g bisa dirasain lagi. Ini pun klo ga dipaksa pasti ga berangkat. Tujuan backpaker tahun ini cuma dua aja, di dalam kota (tapi masuk pelosok kabupaten) dan kota sebelah. 1.               1. Kawasan Dolly        Kenapa kawasan dolly? –ihhhh jangan-jangan mau ngapa-ngapain nih :P -        Iya juga sih, udah tua gini kok kesannya gimana ya belum ngelakuin “ begituan ”. Hehehe. Tapi jangan piktor dulu, yang dimaksud “ begituan ” itu bukan sesuatu ...

Monas, di Suatu Malam

Setelah mengantar kepulangan teman, kami singgah di taman sebelah stasiun. Kebetulan kami sedang ingin refresh dari hal-hal menjenuhkan ibukota. Setelah jepret sana jepret sini, kami pun pulang. Dengan saya yang langsung masuk angin.

Jakarta

Aku sediki terkejut. Malam ini aku merindukan Jakarta. Gara-gara sebuah twit berisi potret kehidupan malam di pasar benhil. Tone warnanya bagus. Objek fotonya dramatis. Seketika aku teringat suasana saat di Jakarta: orang-orang ngantuk di KRL saat berangkat dan pulang dari pekerjaan, di dalam busway yang remnya selalu terasa hentakannya, obrolan di ojol yang lebih banyak tidak terdengarnya. Kemana mana naik umum atau motor untuk menghindari macet. Terkadang ketemu orang baik, kadang orang jahat, kebanyakan cuek. Mungkin cuek karena capek. Jakarta masih ramai jam Sembilan. Masih banyak yang berdagang. Masih banyak yang menunggu orderan. Masih banyak yang melayani pelanggan. Ada yang sibuk telephonan, maklum sedang di rantauan. Karyawan mungkin sedang terkapar di kos-kosan. Pekerjaan menyita waktu seharian. Romantisme Jakarta belum ada tandingan. Mungkin aku yang belum pernah bepergian. Ya sudahlah, ini tentang Jakarta yang di foto mas tadi. Jakarta tempat berjuang. Ini link fotonya ...