Langsung ke konten utama

Pindah

Akhirnya tiba di Jawa Timur. Tepatnya di Surabaya. Kota yang dulu sempat saya pilih lokasi kantornya. Jujur saya tidak menyangka. Suatu berkah bagi saya. Apalagi masuk ke kantor besar. Tidak terpikir sama sekali sebelumnya. Syukur selalu terucap. Kemudian teringat akan banyak rencana yang telah dibuat. Hati bertanya, apakah sempat? Apakah terlaksana? Hanya kemauan dan tekad yang bergerak. Untuk saat ini, hanya terpikir untuk istirahat. Perjalanan darat Jakarta Surabaya atau packing pindahan, saya juga tidak tahu efek yang mana. Yang jelas, sekarang yang terbayang hanya buaian tilam di rumah. Rumah kontrakan yang masih ditinggali pemiliknya. Minggu depan baru bisa ditempati. Sebuah PR lagi. Nampaknya istirahat total baru bisa terlaksana minggu depan. Alhamdulillah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Backpaker -Season 2- (Masih Rencana)

      Bulan Maret, musim backpaker, tinggal nungu beberapa hari lagi. Tahun lalu gw udah bisa keliling jawa dengan modal 550K aja. And it was epic holiday :D gw ketagihan, padahal baru pertama. hahaha       Nah untuk tahun ini, gw rencanain tanggal 18 Maret nanti. Tapi start mulai malamnya. Sayang sekali untuk tahun ini gw cuma bisa backpaker selama 3 hari. Kesibukan kerja bikin waktu luang yang dulu terbuang-buang kini udah g bisa dirasain lagi. Ini pun klo ga dipaksa pasti ga berangkat. Tujuan backpaker tahun ini cuma dua aja, di dalam kota (tapi masuk pelosok kabupaten) dan kota sebelah. 1.               1. Kawasan Dolly        Kenapa kawasan dolly? –ihhhh jangan-jangan mau ngapa-ngapain nih :P -        Iya juga sih, udah tua gini kok kesannya gimana ya belum ngelakuin “ begituan ”. Hehehe. Tapi jangan piktor dulu, yang dimaksud “ begituan ” itu bukan sesuatu ...

Pilih Utang atau Nyawa?

Berapa harga nyawa? Apabila kalian ditanya seperti di atas, kalian jawab apa? Sebelum di jawab, saya kasih insight ya. Di Amerika, Ketika ada permasalahan yang menuntut ganti rugi, orang akan memberi nilai setinggi tingginya. Contoh, Norman adalah korban malpraktek yang menyebabkan kupingnya hilang satu. Norman kemudian menuntut rumah sakit untuk ganti rugi kuping yang hilang. Norman meminta duapuluh juta. Dollar, bukan rupiah. Lah, memang harga satu kuping sebesar itu? Ya ga tau, emang rumah sakit bisa mengembalikan kuping seperti aslinya? Paling mentok mung gawe silicon. Masa si Norman minta ganti sepuluh ribu usd? Kekecilan, itu mah! Nah, sekarang bagaimana kalau nyawa? Berapa harganya? Nyawamu piro? Kalau di depan penjahat, mungkin sebesar yang mereka minta. Kalau depan pacarmu bisa jadi gratis. Semua siap kuberikan termasuk nyawaku, begitu kata Norman. Nah, sekarang saya mau jawab. Harga nyawa saya itu berapa? Ternyata sudah di tentukan lur! Hanya sebesar utang! Murah yo...

Dikampleng wong Maguwo!

Suatu Ketika saya berada di rumah saudara saya di salah satu desa di daerah Maguwo, Jogja. Waktu itu hari Jumat. Saya baru sampai dari Jakarta. Touchdown rumah saudara jam 11 pagi menjelang orang orang berangkat jumatan. Seperti kelaziman umumnya, saya mandi segera setelah memasuki rumah. Sepupu saya yang masih euphoria dengan kedatangan saya kemudian bertanya, om mau ikut jumatan? Saya jawab tidak. Saya sangat ngantuk saat itu. Saya berangkat jam 3 pagi, bangun jam 2 untuk melakukan persiapan. Om titip sedekah jumat ya buat di masjid, sambil saya pergi ke kamar ambil uang di dompet. sebelum saya lanjutkan, saya ingin bertanya kepada kalian. Kalau kalian sedekah, biasanya berapa? Seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh, dua puluh, lima puluh, seratus, atau mix dari angka angka pecahan uang tersebut? Kembali ke cerita, setelah mendapatkan dompet, saya kemudian membukanya. Sambil menjawab ke sepupu saya tadi, wah dek, ga ada uang kecil. Adanya uang merah. YA SAMA LAH! Sontak jawab di...