Langsung ke konten utama

Sidut Rockst*r

Cita-cita saya hampir tercapai. Sayang sekali utopia itu hanya bertahan beberapa minggu saja. SR layaknya pemberi harapan bagi pribadi kami yang menginginkan berekspresi dalam bermusik. Sejenak menghilangkan kepenatan dan keteraturan gerak dan keluar dalam pakem orang kantoran. Kami bermusik, hanya latihan. Tapi mempunyai mimpi hingga lanjut sampai rekaman. Indah bukan? Layaknya efek rumah kaca yang melanglang buana di akhir pekan, menghibur penonton hingga jejingkrakan. Indah nian hidup jika itu terlaksana.

But, yeah. Keinginan sekadar keinginan jika terbentur kenyataan. System kantor kami tidak mengijinkan seseorang untuk berdiam di satu tempat yang sama. Minimal dua tahun kami sudah harus ditendang pada posisi kami. Sebuah cara yang bagus dalam organisasi, tidak dalam perencaan hidup karyawannya. But life must go on, aight. To our basist who move to Jakarta, ingat Jakarta adalah kota yang memberikan harapan bagi orang yang lapar akan kesuksesan. Bukalah jalan kalian, buat diri kalian berhasil. Cheers. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Backpaker -Season 2- (Masih Rencana)

      Bulan Maret, musim backpaker, tinggal nungu beberapa hari lagi. Tahun lalu gw udah bisa keliling jawa dengan modal 550K aja. And it was epic holiday :D gw ketagihan, padahal baru pertama. hahaha       Nah untuk tahun ini, gw rencanain tanggal 18 Maret nanti. Tapi start mulai malamnya. Sayang sekali untuk tahun ini gw cuma bisa backpaker selama 3 hari. Kesibukan kerja bikin waktu luang yang dulu terbuang-buang kini udah g bisa dirasain lagi. Ini pun klo ga dipaksa pasti ga berangkat. Tujuan backpaker tahun ini cuma dua aja, di dalam kota (tapi masuk pelosok kabupaten) dan kota sebelah. 1.               1. Kawasan Dolly        Kenapa kawasan dolly? –ihhhh jangan-jangan mau ngapa-ngapain nih :P -        Iya juga sih, udah tua gini kok kesannya gimana ya belum ngelakuin “ begituan ”. Hehehe. Tapi jangan piktor dulu, yang dimaksud “ begituan ” itu bukan sesuatu ...

Monas, di Suatu Malam

Setelah mengantar kepulangan teman, kami singgah di taman sebelah stasiun. Kebetulan kami sedang ingin refresh dari hal-hal menjenuhkan ibukota. Setelah jepret sana jepret sini, kami pun pulang. Dengan saya yang langsung masuk angin.

Jakarta

Aku sediki terkejut. Malam ini aku merindukan Jakarta. Gara-gara sebuah twit berisi potret kehidupan malam di pasar benhil. Tone warnanya bagus. Objek fotonya dramatis. Seketika aku teringat suasana saat di Jakarta: orang-orang ngantuk di KRL saat berangkat dan pulang dari pekerjaan, di dalam busway yang remnya selalu terasa hentakannya, obrolan di ojol yang lebih banyak tidak terdengarnya. Kemana mana naik umum atau motor untuk menghindari macet. Terkadang ketemu orang baik, kadang orang jahat, kebanyakan cuek. Mungkin cuek karena capek. Jakarta masih ramai jam Sembilan. Masih banyak yang berdagang. Masih banyak yang menunggu orderan. Masih banyak yang melayani pelanggan. Ada yang sibuk telephonan, maklum sedang di rantauan. Karyawan mungkin sedang terkapar di kos-kosan. Pekerjaan menyita waktu seharian. Romantisme Jakarta belum ada tandingan. Mungkin aku yang belum pernah bepergian. Ya sudahlah, ini tentang Jakarta yang di foto mas tadi. Jakarta tempat berjuang. Ini link fotonya ...