Langsung ke konten utama

#folkindonesia

Saya lagi demam music folk. Ini gara-gara musisi Indonesia lho. Bukan yang mainstream, adanya di Indie. Ini mereka.
1. The trees and the wild
Band ini udah lama muncul. Kabarnya sekarang malah lagi tur ke eropa, ke jerman sana. Band bandung ini pas pertama didengerin mirip-mirip dengan king of convenience. Alam-lama kok hanya suara vokalnya aja yg mirip. Yg lain mah masih tetep warna ttaw. Ini lagu favorit saya.

2. Angsa serigala
Band ini rame. Membernya banyak, sebenernya agak bingung juga sama genrenya. Warna musiknya agak mirip arcade fire, seru. Yang bikin bangga, semua bahasanya make bahasa Indonesia. Salah satu video klip mereka juara banget nih. Bahkan video klip “Detik dan Waktu”  menurut saya harus masuk ke video klip terbaik Indonesia sepanjang masa. Coba tonton videonya ;)

3. Stars and Rabbit
Band ini hanya terdiri dari 2 orang, sound lembut dengan vokal unik. Artikulasi vocal nya jadi nilai tambah di lagu-lagu mereka. Diantara lagu-lagu yang ada di youtube, saya paling suka lagu ini

4. Backwood sun
Saya cuma tahu satu lagu doang. Tapi udah kelihatan warna soundnya, dan itu nancep jleb di otak saya. Suasana hutannya kerasa banget nih. Ini lagu mereka yang judulnya "the man has come". J


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Backpaker -Season 2- (Masih Rencana)

      Bulan Maret, musim backpaker, tinggal nungu beberapa hari lagi. Tahun lalu gw udah bisa keliling jawa dengan modal 550K aja. And it was epic holiday :D gw ketagihan, padahal baru pertama. hahaha       Nah untuk tahun ini, gw rencanain tanggal 18 Maret nanti. Tapi start mulai malamnya. Sayang sekali untuk tahun ini gw cuma bisa backpaker selama 3 hari. Kesibukan kerja bikin waktu luang yang dulu terbuang-buang kini udah g bisa dirasain lagi. Ini pun klo ga dipaksa pasti ga berangkat. Tujuan backpaker tahun ini cuma dua aja, di dalam kota (tapi masuk pelosok kabupaten) dan kota sebelah. 1.               1. Kawasan Dolly        Kenapa kawasan dolly? –ihhhh jangan-jangan mau ngapa-ngapain nih :P -        Iya juga sih, udah tua gini kok kesannya gimana ya belum ngelakuin “ begituan ”. Hehehe. Tapi jangan piktor dulu, yang dimaksud “ begituan ” itu bukan sesuatu ...

Monas, di Suatu Malam

Setelah mengantar kepulangan teman, kami singgah di taman sebelah stasiun. Kebetulan kami sedang ingin refresh dari hal-hal menjenuhkan ibukota. Setelah jepret sana jepret sini, kami pun pulang. Dengan saya yang langsung masuk angin.

Jakarta

Aku sediki terkejut. Malam ini aku merindukan Jakarta. Gara-gara sebuah twit berisi potret kehidupan malam di pasar benhil. Tone warnanya bagus. Objek fotonya dramatis. Seketika aku teringat suasana saat di Jakarta: orang-orang ngantuk di KRL saat berangkat dan pulang dari pekerjaan, di dalam busway yang remnya selalu terasa hentakannya, obrolan di ojol yang lebih banyak tidak terdengarnya. Kemana mana naik umum atau motor untuk menghindari macet. Terkadang ketemu orang baik, kadang orang jahat, kebanyakan cuek. Mungkin cuek karena capek. Jakarta masih ramai jam Sembilan. Masih banyak yang berdagang. Masih banyak yang menunggu orderan. Masih banyak yang melayani pelanggan. Ada yang sibuk telephonan, maklum sedang di rantauan. Karyawan mungkin sedang terkapar di kos-kosan. Pekerjaan menyita waktu seharian. Romantisme Jakarta belum ada tandingan. Mungkin aku yang belum pernah bepergian. Ya sudahlah, ini tentang Jakarta yang di foto mas tadi. Jakarta tempat berjuang. Ini link fotonya ...