Langsung ke konten utama

Senyum

     Bagimu, siapa yang memiliki senyum termanis? Bagiku, senyum nenek adalah senyum termanis dan tercantik didunia ini. Senyum itu aku lihat di lamunanku, tidak di dunia nyata. Ya, saat itu aku sedang melamun tentang nenek.

     16 Juni 2010. Tumben sekali orangtuaku sms pada sore hari. Apalagi kami sudah bertelpon di pagi hari. Aku senang saja mendapat sms dari orangtua sehingga langsung kubuka pesan di hapeku. Di sms ituIbu bilang, “Nak, mbah sedang naza’. Tolong bacakan yasin ya.” Kaget aku membacanya.

     Keadaan nenekku memang sudah memburuk selama 8 bulan kebelakang. Sampai kami sekeluarga tidak tega walau hanya dengan melihatnya. Sampai dalam doa, kami berharap yang terbaik ntuk beliau. Termasuk kematian, jika itu yang terbaik.

     Saat itu aku ada di kosan teman baikku. Ba’da maghrib, aku curhat kepada dia. Mungkin karena ingin menghibur, aku dibuatkan teh olehnya. Pada saat sendiri di ruang tamu itu lah aku melamun nenek. Melamun wajahnya. Entah kenapa, yang tergambar adalah wajahnya yang sedang tersenyum. Dan senyum itu sangat cantik sekali. Dengan hidung mancungnya, lebar bibirnya, dan ompong giginya, nenek terlihat sangat cantik sekali.

     Telponku tiba-tiba berdering. Kulihat, orang rumah yang sedang telpon. Aku pikir kejadian tak lebih dari 5 detik itu bisa menghibur orang rumah. Bahwa nenek akan baik-baiksaja karena dia baru saja tersenyum kepadaku.
“hallo, assalamualaikum.” Terdengar suara sesak kakakku memberikan salam.
“waalikum salam, kenapa mbak?” niat untuk bercerita tiba-tiba hilang.
“mbah sudah nggak ada ki”

Alloohummaghfir li Karsum warfa' darajatahuu fil mahdiyyiin wakhlufhu fii aqibihii fil ghaabiriin waghfir lanaa walahuu yaa rabbal aalamiin wafsah lahuu fii qabrihi wa nawwir lahuu fiihi.

Sudah 100 hari engkau pergi, maaf dulu aku tak bisa pulang mengantarmu. :(

Komentar

  1. Senyum dan tangis setelah baca ini...

    aku kesel sama nenek >>>(<<<)
    tapi sebenernya aku kangen sekali SAMA NENEK :(
    Bingung
    dari kecil sampai smp, selalu sm nenek
    sekarang sudah enggak lagi !
    gak ada yang mau dengerin cerita q dengan Senyum seperti Nenek
    Setiap hari setelah pulang sekolah mesti cerita sama nenek ..( dulu)
    tq :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Backpaker -Season 2- (Masih Rencana)

      Bulan Maret, musim backpaker, tinggal nungu beberapa hari lagi. Tahun lalu gw udah bisa keliling jawa dengan modal 550K aja. And it was epic holiday :D gw ketagihan, padahal baru pertama. hahaha       Nah untuk tahun ini, gw rencanain tanggal 18 Maret nanti. Tapi start mulai malamnya. Sayang sekali untuk tahun ini gw cuma bisa backpaker selama 3 hari. Kesibukan kerja bikin waktu luang yang dulu terbuang-buang kini udah g bisa dirasain lagi. Ini pun klo ga dipaksa pasti ga berangkat. Tujuan backpaker tahun ini cuma dua aja, di dalam kota (tapi masuk pelosok kabupaten) dan kota sebelah. 1.               1. Kawasan Dolly        Kenapa kawasan dolly? –ihhhh jangan-jangan mau ngapa-ngapain nih :P -        Iya juga sih, udah tua gini kok kesannya gimana ya belum ngelakuin “ begituan ”. Hehehe. Tapi jangan piktor dulu, yang dimaksud “ begituan ” itu bukan sesuatu ...

Monas, di Suatu Malam

Setelah mengantar kepulangan teman, kami singgah di taman sebelah stasiun. Kebetulan kami sedang ingin refresh dari hal-hal menjenuhkan ibukota. Setelah jepret sana jepret sini, kami pun pulang. Dengan saya yang langsung masuk angin.

Jakarta

Aku sediki terkejut. Malam ini aku merindukan Jakarta. Gara-gara sebuah twit berisi potret kehidupan malam di pasar benhil. Tone warnanya bagus. Objek fotonya dramatis. Seketika aku teringat suasana saat di Jakarta: orang-orang ngantuk di KRL saat berangkat dan pulang dari pekerjaan, di dalam busway yang remnya selalu terasa hentakannya, obrolan di ojol yang lebih banyak tidak terdengarnya. Kemana mana naik umum atau motor untuk menghindari macet. Terkadang ketemu orang baik, kadang orang jahat, kebanyakan cuek. Mungkin cuek karena capek. Jakarta masih ramai jam Sembilan. Masih banyak yang berdagang. Masih banyak yang menunggu orderan. Masih banyak yang melayani pelanggan. Ada yang sibuk telephonan, maklum sedang di rantauan. Karyawan mungkin sedang terkapar di kos-kosan. Pekerjaan menyita waktu seharian. Romantisme Jakarta belum ada tandingan. Mungkin aku yang belum pernah bepergian. Ya sudahlah, ini tentang Jakarta yang di foto mas tadi. Jakarta tempat berjuang. Ini link fotonya ...